Berapa Jam lalu aku nulis tentang sekolah jaman sekarang yang mahal amit-amit (baca dibawah). Biar imbang sekarang aku nulis tentang bagusnya pelajaran di sekolah mahal amit-amit tersebut.
Dan tadi pagi istriku, Shirley pesen dari YM, supaya aku ngajarin Youssel karena mau tes. Kertas "tri in one" ini dengan unsur sengaja ditaruh dekat laptop Acer-ku.
Kertas Pertama
Informasi bahan review di rumah untuk evaluasi akhir semester I. Mulai besok, Rabu 3 Desember sampe dengan 10 Desember 2008 diadakannya. Ada juga informasi majunya jam pulang sekolah, yakni sejam lebih awal dari biasanya. Ada pula informasi bahan pelajaran bahasa inggris, mathematics, bahasa indonesia, dan bahasa Mandarin.
Kertas kedua
Jadwal tes evaluasinya. Berikut jadwalnya: tanggal 3, English dan Mandarin. Tanggal 4, Computer dam Mathematics. Tanggal 5, Drawing dan bahasa Indonesia. Tanggal 9, Mandarin dan Sports. Tanggal 10, Crafts dan latihan untuk perayaan natal bagi yang terpilih. Anakku Youssel, seperti yang sudah-sudah terpilih.
Waks!?? Jadi ini hari pertamaku jadi guru les? Bukan beban. Tapi begitu tau jadwal ngajarku Inggris dan Mandarin... O mai Gat! Serasa aku mendengar suara guntur yang keras. Gunturnya beneran (bukan temenku si Guntur). Memang sih hari sedang gelap, lagi mendung kearah hujan. Dua kali kaget dong?
Bukan apa-apa. Nggak banyak bahasa yang kukuasai. Bahasa Indonesia bisa karena biasa! Wong lahirnya di Indonesia. Bahasa tubuh, bisa karena terpaksa. Ketemu bule biasanya aku pake bahasa ini. Kadang diikuti bahasa mata. Saling melotot, saling bilang dalem ati, bego amat lu, gitu aja ndak ngerti! Bahasa roh, bisa karena anugrah. Nggak layak bisa, karena kasih karunia dibisain sama Tuhan. Bahasa Batak, bisa karena takdir. Orang batak gitu loh. Itupun dengan logat yang ndak ada batak-bataknya. Maklum gede di rantau. Habis. Nggak ada lagi. Bahasa Inggris? Walah! Gimana mau bisa. Waktu SMP dulu, loncat jendela melulu kalo tiba pelajaran ini. Gurunya gendut dan galak. Suka nyubit pake tang. Eh, ndak. Pake tangan. Tapi sakitnya sama juga dengan dijepit tang! Belom ada pulak komnas kekerasan dalam sekolah. Salut deh sama anak-anak balita di Inggris. Kecil-kecil sudah bisa dan ngerti bahasa Inggris. Halah! Kalo bahasa Mandarin, aku agak mendinganlah. Bukan lantaran istriku chinese lo. La dia sendiri juga ndak ngerti. Mendingan aku kan. Mandarin pasif, bisa denger tapi ndak bisa ngomongnya. Bisa denger dan ngerti? Ya ndaklah! Hehehe...
Begitulah, dengan muka dimirip-miripin guru propesional (keluar bahasa bataknya), aku meneguhkan hati mengajar pangeran kecilku. Tertatih-tatih aku membaca buku English Term 1-nya. Apa? Term 1? Berarti ada buku Term 2-nya dong? Yah... nasib! Puji Tuhan. Bener-bener aku puji Tuhan. Meski aku bacanya salah-salah, Youssel ngerti aja apa yang dimaksud. Youssel akan mengulang kalimatku dengan seperti mustinya. Kalo sudah gitu, baru aku tau, aku salah baca. O Tuhan! Lalukanlah cawan ini daripadaku! Cawan itu pergi? Ya. Pergi. Tapi datang cawan berisi anggur lebih asam lagi, bahasa Mandarin!
"Tuhan..." doaku memelas.
Aku merasa Tuhan segera jawab doa terpendekku itu. Sesi dua pelajaran hari ini, posisi guru dan murid ditukar. Youssel-lah kini yang jadi guru, dan aku muridnya. Lancar banget lagi dia ngajarnya. Selancar Jakarta di musim liburan lebaran! Dengan enteng dia menyebut sambil nunjukin gambarnya. @#&%*(&*%#!))((
Kertas ketiga
Undangan coffee morning dari PTA membahas christmas project. Mau tapi malu, malu tapi mau. Mau tapi mau, malu tapi malu. Mau karena doyan ngopi. Malu karena isinya pasti ibu-ibu. Mau tapi ibu-ibu, malu tapi ngopi. Ah pilihan sulit. Itung kancing aja deh. La, ndak bisa. Aku pake oblong. Nggak ada kancingnya.
"Tuhan..." rayuan pulau kelapaku keluar lagi.
Tapi aku seperti tidak denger jawabanNya. Apa akunya yang budek?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar