1001 Pribahasa Hihihi... Jadi inget waktu aku masih SMP. Kalo pas pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya belajar tentang pribahasa, pasti aku selalu protes ke gurunya. Kok protes mulu? Iya. Soalnya saban dia ngelemparin pertanyaan, selalu digilir satu-satu. Dari depan ke belakang, atau sebaliknya. Cuma, ya pas kena digiliran aku, waks... dilompatin! Selalu aja gitu. Ya wajar dong akunya juga jadi protes mulu.
"Bu, saya belon ditanya?" begitu aku protes. Waks... dicuekin?
"Bu, saya belon ditanya??' makin nafsu aku protes. Waks... masih dicuekin?
"BUK, SAYA BELON DITANYAKKK???" kali ini aku protes keras.
Ya, begitulah. Aku ndak heran sih beliau bisa tau jawaban apa yang bakal kuberi. Beliau sudah hafal. 1001 pribahasa, tapi jawabanku cuma ada dua. Pasti kalo nggak "Pekerjaan Yang Sia-Sia" ya "Persahabatan Yang Kokoh". Hehehe... Kayak pribahasa diatas, yang jadi judul cerita ini. Pasti aku pilih jawaban yang kedua! Persahabatan yang kokoh. Tapi bener kan jawabanku?
Asam Di Ember, Garam Di Ember
Kalo yang ini mah, gak sudi aku menterjemahkannya. Biar kata ibu guruku yang cantik berstatus nona itu menyuruh aku yang pertama untuk njawab sekalipun! Napa? Dendam? Ya, ndaklah. Sama guru kok dendam! Ya kar'na aku tau, itu bukan pribahasa. Itu... hiks... Jadi sedih. Kayak yang gila aja. Bentar ketawa bentar nangis. Siapa yang gak sedih kalo luka lamanya dikorek? Asam di ember, garam di ember itu judulnya nyindir, tauk!
Suatu hari, dikala kita duduk di tepi pan... (Iwan Fals nih) ...ci... Lo, kok panci? Maksudku kami sedang duduk sama-sama dideket panci Adit si owner waroeng podjok. Di pancinya itu ada indomie goreng pesenanku, lagi dimasak. Mukaku meringis dengan kaki diatas bangku lain. Yah, gini deh kalo ndak nurut perkataan dokter. Sebenernya dibilang ndak nurut, ya ndak juga. Amanah si dokter kan: "Janganlah kau makan kacang-kacangan!" (Batak kali). Nah, yang kumakan kan kacang beneran, bukan kacang-kacangan? Walah, nyari penyakit!
Sejak divonis asam urat memang aku jadi punya daftar makanan yang musti dijauhi. Maksudnya gak boleh dimakan, bukan jauh dalam arti jarak! Dilalanya, (olala, apaan tuh dilala?) semua yang musti kujauhin ntu adalah makanan kesukaanku sangat. Bahasaku ke-Malaysia-Malaysiaan, cuma untuk ndramatisir. Emping, aku suka. Ndak boleh! Hati dan ampela, aku suka. Ndak boleh. Kol, bulat atau gepeng, aku suka. Ndak boleh. Okelah. Kacang panjang, aku suka. Ndak boleh. Kupotong pendek-pendek. Ndak boleh juga! Halah, ini dokter pelit amat! Padahal aku beli pake duit sendiri...
"Ya, terserah anda. Kalau mau milih sakit, ya silahken..." katanya kaktus, eh ketus.
"Akibatnya, tanggung sendiri!" ketusnya pangkat dua.
"Semoga lekas kambuh", lanjutnya. Ketusnya s'karang dah kubik, alias pangkat tiga. Ye... dokter palsu nih. Dimana-mana, sesion terakhir dokter kan bilang: "s'moga lekas sembuh!" Kok ini kambuh?
La, s'karang inilah aku "terkaing-kaing". Kambuh si asam urat. Bela-belain datang dari rumah ke waroeng podjok, konon ki Guntur, eh si Guntur punya resep tradisional. Dari rumah ke sini memang ndak jauh, kalo kaki normal. Kalo lagi kumat gini, selangkah aja butuh bermenit-menit! Tapi demi mendengar ada resep klasik kutempuh juga perjalanan panjang ini. Dari pada balik ke dokter ketus itu? Apa kata dia? Ndak ah!
Resepnya ternyata mudah dan murah euy... Ini dia alat dan bahannya. Sebuah ember yang bisa muat sepasang kaki. Sebuah pemecah es. Garam secukupnya. Dua bongkah es batu (apa batu es, ya?). Seliter minyak tanah (gak boleh diganti LPG). Gini cara bikinnya. Mutilasi bongkahan es kecil-kecil. Hingga gak ketauan lagi mana kepala, mana tangan, mana kaki. Waks? Sadizzzz! Tumpahkan minyak tanah ke dalam ember. Masukkan pula garam dan es kecil-kecil tadi. Aduk hingga kesabaranmu tak ada lagi. Boleh ndak diaduk. Masukkan kakimu. Kepalamu juga boleh. Boleh kaki kiri dulu. Boleh yang kanan dulu. Boleh dua-duanya. Yang gini aku demen nih. Semua boleh. Tapi...
"Waddooooowwwwww!!!!" Aku teriak keras setelah memasukkan kakiku kedalam ember tadi. Mau tau rasanya? Cobain deh!
Ah, aku ke dokter lagi aja. Tapi ndak ke dokter kaktus itu. Yang di Intercon aja. Ada klinik murah. Bayar cuma 7 ribu. Dapet obat. Dapet senyum dokter. Dokternya cantik lo... Hayo, pilih ember apa dokter? Wakakak...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar