Kamis, 27 November 2008

SMS Seram, Telpon Usil

"Berharga kematian orang-orang..." dst.
Begitu pengkhotbah biasa membuka Alkitabnya di ibadah-ibadah kematian, dimana aku sering melayani sebagai pemusiknya. Tapi hari itu aku mendengar khotbah yang sama di ibadah kematian temenku.


Angkutan Konyol

Bagai mendengar petir di siang bolong saat aku disms tentang meninggalnya temen sepelayanan dan sekaligus bekas stafku waktu masih jadi office manager di GBI Rayon 1G. Tambah kaget waktu tau, meninggal karena kecelakaan. Kekonyolan sopir angkutan, menerobos pintu kereta api memang sudah sangat kerap terjadi. Inilah potret transportasi negri kita. Mempertaruhkan nyawa banyak orang demi mengejar uang. Sampai kapan? Sampai berapa banyak korban lagi? Wahai...! Tak tau, pada siapa marah ini kutujukan.
...O... SSSRAAAMMM!
Seminggu kemudian...
Ini hari kunjunganku ke sekretariat GBI Rayon 1G di Kenarimas. Sebagai orang yang pernah jadi penguasa di kantor tersebut tentu saja suguhan makanan dan minuman enak adalah biasa. Segala jenis kopi-kopian disajikan dalam berbagai rupa. Tapi kutolak. Tidak semua. Hanya yang bentuknya merepotkan saja. Seperti yang satu itu. Masak aku harus menggilingnya sendiri. Hihihi...
Say helo kanan kiri. T'rus dipaksa masuk ruang WaKa Rayon, pak Sapto. Pendeta muda yang luar biasa. Bukan cuma muda dalam artian Pdm. Tapi memang umurnya masih mudalah untuk jabatan gembala. Aku biasa ngobrol dengannya. Kar'na akrab, aku memanggilnya "Mas" ganti Pak. Sambil ngobrol, tanganku meraih Nokia N9300i-nya. Maklum orang IT tuh kebiasaannya gitu memang. Sambil pencet-pencet tombolnya, tiba-tiba muncul tanduk di kepalaku. Diikuti munculnya lampu menyala terang (kayak osram) di atas kepalaku. Aku masuk ke kontek-nya. Mencari namaku. Menggantinya dengan nama lain. Nama temenku yang seminggu lalu baru saja meninggal. Kuletakkan kembali di atas meja kerjanya. Masih terus ngobrol. Kuambil hapeku disaku celana. Kucari nama Sapto dan kutekan tombol memanggil. Kutaruh disaku baju dan terus membiarkan hapeku melakukan pemanggilan.
Bisa nebak apa yang terjadi kemudian? Bener! Mas Sapto panik luar biasa waktu liat nama yang muncul di hapenya. Tadinya semua yang lain ikutan panik. Setelah kesadaran kembali, setelah logikanya bekerja, baru deh pada meledak ketawanya. Hahaha...
Jangan meniru adegan itu.
Tragedi Itu Terulang lagi
Kira-kira seminggu kemudiannya lagi...
Hari Rabu. Harinya KTM. Formasinya masih sama dengan yang lalu-lalu. Barita pada kibor, Dirun pada bas, aku pada drums, jemaat pada... kemana nih? Kok blum pada datang? Maklumlah, lagi musim hujan. Bikin ibadah molor sekian menit. WL-nya Very GB. Singernya masih 2 ceweq yang dulu, yang namanya aku ndak hafal. Lewat sekian menit ibadah dimulai. Nggak lama-lama. Biar pengkotbah bisa nyerocos lebih lama. Sampe super dower-lah. Dibelakang, duduk aku disebelah soun men, Boim. Sebelah aku, Very. Sebelahnya Very, berdiri dengan gak sopannya, Didi si kameramen. Berdirinya itu lo, di atas tempat duduk. Mustinya kan berdiri ya ditempat berdiri! Sebelahnya Didi, duduk senyum-senyum si Anto. Tiba-tiba, tanpa aba-aba keluar lagi 2 tanduk di kepalaku. Seperti minggu lalunya, muncul pula gambar lampu. Bedanya kali ini bukan lampu terang Osram, tapi lampu teplok!
Tanganku menarik laci meja mixer Boim. Aku tau kebiasaan Very. Suka naruh hapenya disitu. Prosesi Semanggi I, eh Kenari I berjalan mulus. Kayak reka ulang adegan kriminal yang biasa ditayangin tipi-tipi. Kali ini namaku kuganti dengan... DR. Janto! Tau dong beliau siapa? Bukan cuma setan aja yang takut sama beliau ini. Fulltimernya pun ngeper kalo ketemu beliau. Nah, bisa kebayangkan waktu aku pencet tombol memanggil dihapeku? Terkaget-kaget dia teriak tertahan...
"E... e... eh..., Napa nih dokter nelpon aku?"
Wakakak...
Tapi dia sadar sendiri dari kesurupannya.
"Lo, aku kan ndak pernah simpan nomernya di Esiaku?"
Lalu matanya tertuju padaku. (Gak boleh itu. Harusnya tertuju pada Tuhan). Soalnya, cuma aku sendiri yang bergetar-getar kayak hape yang diaktifin vibrate-nya. Ketawa ngikik sambil mati-matian nahan biar jangan terbahak-bahak. Ditimpuknya aku pake aqua gelas kosong. Kar'na sudah pernah ikut karate, reflek aku ngelak. Yang kena malah tangan Boim yang lagi muter-muter tombol mixernya. Tiba-tiba suara pengkotbah jadi gede banget. Sebab tombol yang lagi dipegang adalah gain untuk gedein suara. Nah lo! S'mua kaget.
"Ampuni Very Tuhan..." aku berdoa syafaat.
"Bang James tuh Tuhan, bukan aku..." Very ikut-ikutan bersyafaat.
"Ya, udah. Aku ajalah yang diampuni Tuhan. Dia nggak usah, dia ndak mau..."
Very bengong. Kalah aja kalo ngelawan abang satu ini, Very membathin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar