Kamis, 27 November 2008

Sepatu Belanda

Beberapa tahun silam, kakakku Intan, menghadiahi aku sepasang sepatu. Sepatu keren buatan negri Belanda. Dua kali terendam banjir. Banjir parah waktu itu, sampe Taman Aries ikutan kena banjir. Sedikit banyak, pasti adalah ngaruhnya sama ketahanannya. Tidak! Bukan seperti yang tampak pada gambar disebelah. Aku blom sempat motret sepatuku itu. Kapan-kapan deh. Ingetin aku ya...

KTM dong ah...
"Kemaren hari Rabu, soalnya harus dijawab. Kalo tidak dijawab, nanti ndak lulus."
"Kaat!!!" Sutradara ngamuk! Aku disuruh ngulang lagi.
"Kameraaaa... Eksen!" teriaknya lagi.
"Kemaren hari Rabu, soalnya ini hari Kamis."
Itu yang benernya. Sutradaranya narik nafas lega. Cerita berlanjut... (ngayal lagi syuting)
Ya, kemaren ntu, kar'na hari Rabu, maka ada KTM. Tau ndak KTM apaan? Soalnya banyak arti dan kepanjangannya. Di dunia otomotif, KTM itu adalah merk sepeda motor. Di dunia orang gila, KTM kalo dipanjangin jadi: Kaaaaaaaa Teeeeeee Emmmmmmmmmmmmm! Di gereja kayak GBI, KTM berarti Kebaktian Tengah Minggu. Kalo di CoOL KTM adalah singkatan dari Kesatuan hati, Tumbuh bersama, Memenangkan jiwa. Sedangkan di dunia pasutri KTM kalo dipanjangin Kesatuan hati (juga), Tidur bersama (bersama juga), Menghasilkan jiwa (Jiwa juga). Hehehe... Makanya, biar kata sudah berumah tangga tetaplah ikut CoOL! Wah jadi promoin CoOL? Ntar minta bayaran nih ama pak Hengky. Hihihi...
Donat Tengahnya Bolong, Minggu Tengahnya Apa?
Yang mau aku ceritain adalah KTM di GBI, Kebaktian Tengah Minggu. Aku ndak ikut rapatnya, waktu diputuskan KTM dibikinnya hari Rabu. Kalo aku maksaiin diri untuk ikut, pasti diteriakin: "Siapa sih Looo?". Rumusnya apa aku juga ndak tau, kok tau-tau hari Rabu dijadikan tengahnya minggu. Senin ke Minggu, harusnya tengahnya ya di hari... Ah, ga pentinglah.
Pokoknya gitu aja. Saban hari Rabu, aku, Dirun (ini anak pernah kusebut namanya dicerita Waroeng Podjok) dan Barita "ngeband" bersama. Formasinya adalah: Barita pada... Key...board! Plok... plok... plok... Dirun pada... Bass!! Plok... plok... plok... James (itu namaku, disebut juga akhirnya) pada... Drums!!! Lho? kok ndak ada Plok... plok... plok...annya? Yah... Jemaah pada kemana? Sudah pada pulang kali. Hihihi...
Formasi itu kadang bisa aja berubah kalo aku lagi ndak pengen maen drums. Aku kan masih manusia, punya rasa punya capek... jangan samakan dengan... pisau belatiiiiiiii... Kalo sudah gitu, aku biasanya jadi maen keyboard (piano). Barita keyboard filler. Dirun tetep maen bas. Drummernya ganti-ganti. Ada banyak, kepanjangan kalo nama-namanya kutulis.
Atas permintaan pembicara hari itu, praise & worshipnya diminta sebentar aja. Kami sih oke aja. Dalam hati bilang: "Bayarannya sama ini..." Hush! Ndaklah, joke aja. Hehehe...
Setengah jam sebelum pukul 7, biasanya latihan dulu. Lha, Toni si WL-nya kok belum keliatan? Ya sudah. Latihannya sama singers-nya aja. Dua-duanya jauh lebih cantik dari Toni. Soalnya, Toni kan cowoq! Hahaha... 7 lewat 2 menit, Toni baru muncul! Halah... Ketiduran katanya. Pantes matanya merah. Kirain mabok abis minum topi miring atau tuak.
Bah, ayo menyembah...
Satu lagu lambat, satu lagu cepat, satu lagu lambat lagi, t'rus nyembah (GBI banget!). T'rus nyembah. T'rus nyembah! Pembicaranya naik. T'rus nyembah!! Bah!!! Katanya bentar aja? Itulah Tuhan. Kalo hadiratNya sudah turun, gak nahan bro! Ya, gitu deh. Setelah KTM berakhir, dan setelah tanda tangan tanda terima (yang tau pasti senyum), aku pulang jalan kaki. Kalo jalan tangan ntar dikrain akrobat. Lagi, memang aku ndak bisa tuh. Aku jalan kar'na Intercon - Taman Aries kan dueket. Nyeb'rang jalan doang. Aku pulang bareng Dirun dan si... walah ndak tau aku namanya, sodaranya Dirun dari kampung, eh, Lampung. Jalan bertiga diiringi gerimis malam bikin kaki kami kerja lebih cepat dari biasanya. Dan... Oh! Terjadilah! Kakiku merasa ada ketidak beresan di sepatu kiri. Sol-nya (nada kelima?) terasa mau memisahkan diri dari kesatuannya sebagai sepatu. Makin melangkah makin berasa. Oh my goodness!
AMAZING GRACE
Tengsin juga nih. Terpaksa aku keluarin jurus pendekar malas berjalan. Dangan nyeret-nyeret gitu aku jadi jalan paling belakang. Sudah nyebrang. Persis di depan pintu besi gerbang Taman Aries, mendadak aku serasa orang cacat. Tinggi kakiku ndak sama. Kiri lebih pendek. Cepat kutoleh ke belakang. Benar saja, Sol sepatu kiriku secara resmi keluar dari kesatuannya sebagai sepatu. Sepersekian detik, tanganku dengan sigap meraihnya. Terus melangkah (kayak lagu peterpan. Masih ada nggak sih peterpan?), jalan bagai orang cacat. Pas sudah lewatin Pos Keamanan, tiba-tiba aku merasakan keajaiban. Aku berjalan normal kembali! Haleluya! Haleluya!! Kok bisa ya? Padahal suer, ntah kar'na panik campur tengsin aku ndak doa untuk itu lo... Jadi...
Gak Kompak Gubrak!
Kuputuskan saja ngeliat sepatuku. Ga ada yang aneh. Kuliat beberapa meter ke belakang... Oalah, kini aku mengerti. Sol sepatu kananku ikut-ikutan melepaskan diri dari kesatuannya juga. Seperti tadi, cuma sepersekian detik kuraih, kubawa pulang. Tapi jalanku jadi normal lagi. Ndak pake jurus pendekar-pendekaran lagi.
Hari ini, saat memikirkan kejadian itu, aku bertanya sama Sahabatku: "Tuhan, aku bisa belajar apa nih?"
Jadi ingat sama perumpamaan orang sakit yang digotong sama 4 orang itu. Pastilah keempatnya kompak banget. Kalo nggak, waktu nurunin si sakit dari atas rumah, pastilah yang sakit gubrak, jatuh duluan. Kekompakan mereka ada andil juga dalam mujizat kesembuhan si sakit. Hm... Kompak! Ya... kompak. Kayak sepatuku itu. Kok bisa dua-dua sol-nya sama sama lepas. Tapi kar'na itulah aku jadi merasakan "mujizat kecil" kan? Ah, memang selalu ada alasan untuk bersyukur. Bahkan dalam insiden-insiden kecil kayak gitu. Setuju?
Marilah kita hidup kompak, rukun dan unity. Ah, pasti indah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar